Wajib Tahu, Gunung Agung Ditutup Saat Pujawali 21 Oktober–5 November

image Clayoquot Escape

Ringkasan: Pendakian Gunung Agung dilarang pada 21 Oktober sampai 5 November 2026. Alasannya adalah Pujawali Purnama Kelima di Pura Pasar Agung. Larangan berlaku untuk pendaki, pemandu, dan pengelola jasa pendakian di semua jalur ke puncak. Dari rekap kami, ini penutupan 16 hari, dimulai 12 hari lebih awal dari tahun lalu.

Apa itu penutupan Gunung Agung saat Pujawali 21 Oktober–5 November?

Papan pengumuman resmi surat imbauan UPTD KPH Bali Timur tentang larangan pendakian Gunung Agung terpasang di pos jaga.

Penutupan ini adalah larangan sementara mendaki Gunung Agung di Karangasem, Bali, dari 21 Oktober hingga 5 November 2026. Larangan dikeluarkan agar Pujawali Purnama Kelima di Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir berjalan khidmat. Semua jalur menuju puncak terdampak, dan layanan jasa pendakian diminta berhenti.

Pujawali adalah upacara peringatan hari suci sebuah pura. Pura Pasar Agung menggelarnya setahun sekali pada Purnama Sasih Kelima. Selama upacara berlangsung, wilayah di atas pura dijaga tetap suci.

Kabar penutupan ini ramai sejak awal Oktober. Mounture.com melaporkannya pada 4 Oktober 2026, berdasarkan imbauan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur di bawah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali. Surat itu bernomor B.24.500.4/5829/UPTD.KPHBT/DKLH dan berjudul Larangan Pendakian Gunung Agung.

Satu catatan jujur: kami membaca isi surat lewat laporan Mounture, bukan salinan aslinya. Kalau trip Anda bergantung pada tanggal ini, konfirmasikan ke pemandu atau UPTD KPH Bali Timur.

Mengapa penutupan ini penting bagi pendaki di 2026?

Pos registrasi pendakian Gunung Agung dalam kondisi kosong dan terkunci dengan papan pemberitahuan jeda layanan 16 hari.

Penutupan ini penting karena menyentuh rencana banyak orang sekaligus. Periode 21 Oktober sampai 5 November mencakup 16 hari. Itu setara dua akhir pekan penuh dan satu pekan kerja yang biasa dipakai untuk trip pendek.

Meski berbentuk surat imbauan, larangan ini punya sasaran yang luas. Menurut laporan Mounture, imbauan ditujukan kepada pendaki, pemandu, pengelola jasa pendakian, kelompok pengelola jasa lingkungan (KPS/KUPS), dan masyarakat umum. Pihak-pihak itu diminta tidak mengizinkan, menerima, atau memfasilitasi pendakian ke puncak.

Artinya, pemandu resmi seharusnya tidak menerima booking di rentang tanggal tersebut. Pendaki yang nekat naik sendiri tidak punya pemandu, tidak punya pelapor di pos, dan tidak punya jalur evakuasi yang siap. Risiko itu kami bahas di bagian lain.

Ada pula soal waktu. Penutupan 2026 dimulai lebih awal dari tahun lalu, sehingga pendaki yang terbiasa memakai pola “November aman” bisa meleset. Jadwal Pujawali mengikuti kalender Bali yang berbasis bulan, jadi tanggalnya bergeser setiap tahun terhadap kalender Masehi. Jangan menyalin rencana tahun lalu begitu saja.

Bagi pelaku usaha penginapan dan operator tur di Karangasem, dampaknya langsung terasa pada pemesanan. Bagi pendaki, dampaknya soal menjadwal ulang atau memilih gunung lain.

Apa yang diumumkan dan siapa yang mengumumkan?

Petugas kehutanan UPTD KPH Bali Timur berdialog dengan pengurus Pura Pasar Agung terkait penegakan surat imbauan.

Pengumuman datang dari UPTD KPH Bali Timur. Lembaga ini berada di bawah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali dan mengelola kawasan hutan di sekitar Gunung Agung.

Isi pokok pengumuman, menurut laporan Mounture.com tertanggal 4 Oktober 2026:

  1. Periode larangan: 21 Oktober sampai 5 November 2026.
  2. Dasar: pelaksanaan Pujawali Purnama Kelima Pura Pasar Agung Besakih Giri Tohlangkir.
  3. Sasaran: pendaki, pemandu, pengelola jasa pendakian, KPS/KUPS Jasa Lingkungan Pendakian Gunung Agung, dan masyarakat umum.
  4. Tambahan: pelayanan jasa pendakian di seluruh jalur menuju puncak diminta berhenti sementara.
  5. Tujuan: menjaga kesucian kawasan, mendukung kelancaran kegiatan keagamaan, dan menghormati adat setempat.

Perhatikan bahwa dokumennya berbentuk surat imbauan. Dalam praktiknya, imbauan ini didukung pemandu dan panitia pura, jadi anggaplah sebagai larangan yang harus dipatuhi.

Informasi soal pembukaan kembali belum ada. Mounture menyarankan pendaki memantau pengumuman resmi pengelola. Kami melakukan hal yang sama dan akan memperbarui artikel ini.

Mengapa tidak boleh ada pendakian saat Pujawali?

Naskah kuno daun lontar Purana Pura Pasar Agung dipelajari oleh tokoh adat terkait aturan menjaga kesucian lingga gunung.

Alasannya adalah keyakinan adat. Menurut I Wayan Suara Arsana, Humas Pura Pasar Agung, saat Pujawali Ida Bhatara di Gunung Agung diyakini berstana di Pura Pasar Agung. Karena itu, tidak boleh ada aktivitas yang lebih tinggi dari pura tersebut. Penjelasan ini dimuat Detik Bali dan IDN Times pada 2022.

IDN Times juga mengutip penjelasan yang sama bahwa larangan tersebut tertuang dalam Lontar Purana Pura Pasar Agung. Lontar itu menyebut tidak ada yang boleh menginjak atau mendaki ke atas gunung atau di atas lingga Ida Bhatara selama piodalan.

NusaBali pada 2025 mengutip Suara Arsana dengan tujuan yang sama. Larangan dibuat untuk menjaga kesucian Pura Pasar Agung dan kesucian Gunung Agung agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan selama pujawali.

Lokasi pura membantu menjelaskan logikanya. Menurut RRI (4 Juni 2026), Pura Pasar Agung berada di lereng selatan Gunung Agung, di Banjar Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Pura itu berada di antara kaki dan puncak gunung, dan kawasannya kerap menjadi titik awal pendakian.

Jarak ke Pura Agung Besakih sekitar 22 kilometer lewat jalan darat, menurut Antara (2024). Kedua pura sama-sama berada di kaki gunung tertinggi di Bali. Gunung ini dikenal 3.142 meter di atas permukaan laut menurut pemberitaan Antara, walau sebagian sumber lain mencatat angka berbeda.

Bagi pendaki, intinya sederhana. Larangan ini bukan soal kondisi gunung, tetapi soal penghormatan. Cuaca cerah tidak mengubah apa pun.

Data kompilasi: pola penutupan Gunung Agung 2022–2026

Lembar data perbandingan durasi dan periode penutupan Gunung Agung dari 2022 hingga 2026 di meja analisis redaksi.

Kami menyusun rekap penutupan terkait Pujawali dari laporan media yang bisa diverifikasi. Angka durasi dihitung ulang dari tanggal yang dilaporkan. Tabel ini kompilasi redaksi, bukan data resmi pengelola.

TahunPeriode penutupanDurasiKonteksSumber
2022Tanggal rinci tidak tercantum; puncak 8 November 2022Pujawali berlangsung 11 hariPurnama KelimaDetik Bali, IDN Times (2022)
20241 Oktober–30 November 202461 hariKarya besar di Pura Pasar AgungAntara (2024)
20252–16 November 2025; dibuka 17 November15 hariPujawali Purnama KelimaNusaBali, Detik Bali, Balipost (Oktober 2025)
202621 Oktober–5 November 202616 hariPujawali Purnama KelimaMounture.com (4 Oktober 2026)

Tiga hal terlihat dari rekap ini.

Pertama, durasi tidak tetap. Rentangnya dari sekitar dua pekan sampai dua bulan. Tahun 2024 jauh lebih panjang karena ada rangkaian karya yang lebih besar, yakni Karya Tabuh Gentuh Wana Kertih, Segara Kertih, dan Nubung Pedagingan, menurut surat panitia yang dikutip Antara.

Kedua, jadwal 2026 lebih awal. Penutupan dimulai 21 Oktober, sedangkan 2025 dimulai 2 November. Selisihnya 12 hari. Akhir penutupan 2026 jatuh 11 hari lebih awal dari 2025.

Ketiga, pembukaan kembali biasanya sehari setelah penutupan berakhir. Pada 2025, jalur dibuka 17 November, sehari setelah 16 November. Detik Bali (2022) juga melaporkan pendakian dibuka lagi keesokan harinya setelah penyineban, yaitu hari terakhir Pujawali. Ini pola, bukan jaminan. Untuk 2026, tanggal pembukaan resmi belum diumumkan.

Jalur pendakian mana yang terdampak?

Peta kontur topografi jalur pendakian Pura Besakih dan Pura Pasar Agung terbentang dengan penanda titik kawah puncak.

Semua jalur menuju puncak terdampak. Menurut laporan Mounture, pelayanan jasa pendakian pada seluruh jalur yang mengarah ke puncak Gunung Agung diminta dihentikan sementara.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pernyataan panitia juga menyebut larangan berlaku untuk semua jalur. Detik Bali (2022) mengutip Suara Arsana bahwa aturan ini berlaku untuk seluruh jalur pendakian ke Gunung Agung.

Dua jalur yang paling dikenal adalah Pura Pasar Agung dan Pura Besakih. Menurut Gramedia, keduanya adalah rute utama yang sering disebut pendaki. Inivie.com mencatat pendaki harus mendaftar di pos resmi di salah satu dari dua titik itu, dan jalur Besakih menuju puncak tertinggi butuh sekitar 6–8 jam untuk sampai tepi kawah.

Kami merangkum profil kedua jalur beserta perlengkapan di panduan jalur pendakian Gunung Agung. Artikel itu terbit September 2025, jadi gunakan hanya untuk gambaran medan. Jangan pakai untuk jadwal.

Jangan mengira jalur “yang lain” aman dilewati. Larangan menyebut seluruh jalur ke puncak, dan pemandu diminta tidak memfasilitasi. Tidak ada celah resmi yang bisa dimanfaatkan.

Siapa yang paling terdampak?

Kelompok pemandu pendakian lokal berdiskusi di pos pemandu Desa Sebudi mengenai penyesuaian jadwal tamu saat penutupan.

Pendaki individu menanggung dampak paling jelas. Mereka harus menggeser tanggal atau memilih gunung lain. Untuk pemesanan yang sudah dibayar, hubungi penyedia jasa sekarang, bukan seminggu sebelum berangkat.

Pemandu lokal terdampak langsung. Mereka diminta tidak menerima pendakian ke puncak selama periode larangan. Pada 2025, panitia pura berkoordinasi dengan seluruh pemandu Gunung Agung agar tidak ada pendakian, menurut Balipost.

Operator tur dan penginapan di sekitar Selat dan Rendang kehilangan sebagian pemesanan. Mereka bisa menawarkan paket pengganti yang tidak melibatkan puncak.

Pendaki asing juga perlu informasi ini. Banyak yang memesan lewat platform daring dengan jadwal tetap. Kalau Anda membaca ini sebagai pengelola tur, perbarui ketersediaan di kanal pemesanan dan beri tahu tamu sebelum mereka berangkat ke Bali.

Terakhir, ada pendaki yang berencana naik tanpa pemandu. Kami sarankan tidak. Alasannya kami jelaskan di bagian risiko.

7 opsi pengganti selama Gunung Agung ditutup

Pemandangan fajar di puncak Gunung Batur Kintamani sebagai jalur alternatif pendakian saat Gunung Agung ditutup.

Tidak semua rencana harus batal. Berikut tujuh opsi yang masuk akal untuk periode 21 Oktober–5 November. Kami hanya memberi angka bila ada sumber. Sisanya kami tulis apa adanya.

#OpsiCocok untukCatatanSumber
1Sunrise Gunung Batur (Kintamani, Bangli)Pemula, waktu terbatasNaik sekitar 1–2 jam; pemandu terdaftar diwajibkan asosiasi lokal; tur berpemandu Rp350.000–550.000 per orang menurut Nomado Travel (harga bisa berubah)SeekSophie, Nomado Travel
2Gunung Abang (dekat Danau Batur)Yang mau lebih sepiDigambarkan lebih tenang dari Batur; pemandu lokal disarankanBali Home Immo
3Sunrise jeep di BaturKeluarga, yang tidak mau trekkingTanpa pendakian panjang; cek operatorTanpa data harga
4Hot air balloon BaliPencari pengalaman udaraOpsi non-pendakian; cek jadwal operatorTanpa data harga
5Paragliding UluwatuPencari adrenalinOpsi non-pendakian di Bali selatanTanpa data harga
6Snorkeling di Gili, LombokYang mau ke lautPerlu waktu penyeberanganTanpa data harga
7Tunda pendakian ke setelah 5 NovemberYang ingin tetap ke AgungTunggu pengumuman pembukaan resmiUPTD KPH Bali Timur

Untuk opsi pertama, baca dulu jalur pendakian Gunung Batur di Bali. Pastikan Anda memesan lewat pemandu terdaftar. Nomado Travel menyebut asosiasi pemandu Batur mewajibkan semua pendaki memakai pemandu lokal terdaftar.

Untuk yang tidak ingin trekking sama sekali, hot air balloon di Bali bisa jadi pengganti. Kami belum menguji ulang detailnya untuk 2026, jadi cek jadwal operator.

Opsi ketujuh paling sering dilupakan. Menunda adalah pilihan sah. Jika waktu Anda fleksibel, geser trip ke pekan setelah 5 November dan tunggu pengumuman resmi.

Cara menyesuaikan rencana pendakian: langkah demi langkah

Pendaki mengecek kalender perjalanan dan menghubungi operator pemandu lewat laptop untuk mengatur ulang jadwal trip.

Cara menyesuaikan rencana: 1) cek tanggal Anda terhadap larangan, 2) hubungi pemandu, 3) putuskan tunda atau ganti gunung, 4) pastikan status resmi, 5) laporkan rencana ke orang terdekat. Berikut rincinya.

  1. Cek tanggal Anda. Jika pendakian jatuh pada 21 Oktober–5 November 2026, jangan berangkat ke Gunung Agung.
  2. Hubungi pemandu atau operator. Tanyakan kebijakan pembatalan atau penjadwalan ulang. Minta konfirmasi tertulis.
  3. Pilih: tunda atau ganti. Tunda ke setelah 5 November, atau pilih gunung lain yang statusnya terbuka.
  4. Verifikasi status gunung. Untuk gunung berapi aktif, periksa status resmi PVMBG. Aturannya bisa berubah kapan saja.
  5. Cek aturan simaksi gunung pengganti. Setiap pengelola punya syarat sendiri. Kami merangkum contohnya di aturan simaksi dan penutupan jalur pendakian.
  6. Siapkan perlengkapan sesuai medan. Pemula bisa mulai dari tips hiking gunung untuk pemula.
  7. Kabari orang terdekat. Kirim rute, jadwal, dan batas waktu kembali.

Dua catatan. Pertama, jangan mengandalkan unggahan media sosial untuk status jalur. Kedua, kalau ragu, tanya pengelola. Satu telepon lebih murah daripada tiket pesawat yang terbuang.

Mengapa tidak disarankan nekat naik saat larangan?

Lereng pasir vulkanik curam dan tebing batu terjal jalur Gunung Agung yang berisiko tinggi tanpa pemandu dan tim evakuasi.

Ada tiga alasan, dan tidak ada yang soal gengsi.

Pertama, soal adat dan hukum setempat. Larangan ditujukan menjaga kesucian kawasan. Mendaki saat itu dianggap melanggar penghormatan terhadap upacara. Pemandu dan panitia sudah berkoordinasi agar tidak ada yang naik.

Kedua, soal keselamatan. Tanpa pemandu resmi, Anda tidak punya orang yang mengenal jalur dan kondisi terkini. Di Gunung Agung, kasus pendaki hilang dan butuh evakuasi bukan hal baru. Basarnas Bali beberapa kali mencari dan mengevakuasi pendaki Gunung Agung, termasuk warga asing, menurut rangkaian laporan Antara Bali.

Ketiga, soal cuaca dan aturan lain. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Bali menerbitkan surat edaran pada 2025 tentang pencegahan risiko pendakian saat cuaca ekstrem. Surat bernomor B.24.500.4.1/95/UPTD.KPHBT/DKLH Tahun 2025 itu mengimbau pendaki tidak naik saat hujan lebat atau badai. Jika tetap naik, pendaki diwajibkan memakai pemandu lokal, menurut Antara.

Jadi, ada dua lapis aturan: larangan adat selama Pujawali dan imbauan keselamatan saat cuaca buruk. Keduanya bisa berlaku bersamaan.

Cek status resmi sebelum berangkat ke gunung mana pun

Petugas pos pengamatan gunung api PVMBG memantau grafik seismik aktivitas vulkanik Gunung Agung di monitor pemantauan.

Status gunung berapi bisa berubah, dan penutupan adat hanya satu dari beberapa penghalang. Biasakan cek tiga hal sebelum berangkat.

Status aktivitas vulkanik. Gunung Agung adalah gunung berapi aktif yang dipantau PVMBG. Kami tidak mencantumkan level terkini di sini karena angkanya bisa berubah dalam hitungan hari. Buka kanal resmi PVMBG saat Anda merencanakan trip.

Pengumuman pengelola. UPTD KPH Bali Timur dan pemandu setempat adalah sumber paling cepat untuk jalur Agung. Untuk gunung lain, cek pengelola masing-masing.

Cuaca. Cuaca ekstrem bisa menutup jalur kapan saja. Aturan surat edaran 2025 di atas menunjukkan pemerintah daerah memperlakukan hujan lebat dan badai sebagai risiko serius.

Satu pelajaran penting: jangan menganggap jalur selalu terbuka. Status bisa berubah karena upacara adat, cuaca, atau kebijakan pengelola. Karena itu, cek ulang sehari sebelum berangkat.

Tulis rencana cadangan sebelum berangkat. Tulis juga batas waktu: kapan Anda memutuskan batal.

FAQ — Gunung Agung Ditutup Saat Pujawali

Apa itu penutupan Gunung Agung saat Pujawali 21 Oktober–5 November? 

Larangan sementara mendaki Gunung Agung dari 21 Oktober sampai 5 November 2026. Alasannya Pujawali Purnama Kelima di Pura Pasar Agung. Semua jalur ke puncak terdampak, dan pemandu serta pengelola jasa pendakian diminta berhenti melayani pendakian selama periode itu.

Kapan jalur pendakian Gunung Agung dibuka lagi? 

Tanggal pembukaan resmi 2026 belum diumumkan per 9 Oktober 2026. Pada 2025, jalur dibuka sehari setelah penutupan berakhir. Gunakan itu sebagai perkiraan, bukan jaminan, dan tunggu pengumuman pengelola.

Mengapa Gunung Agung ditutup saat Pujawali? 

Karena diyakini Ida Bhatara berstana di Pura Pasar Agung saat Pujawali, sehingga tidak boleh ada aktivitas yang lebih tinggi dari pura. Larangan ini juga tertuang dalam Lontar Purana Pura Pasar Agung, menurut penjelasan pengurus pura.

Apakah semua jalur ke Gunung Agung ditutup? 

Ya. Menurut laporan Mounture.com, layanan pendakian di seluruh jalur yang mengarah ke puncak diminta dihentikan sementara selama periode larangan.

Apa alternatif mendaki di Bali selama penutupan? 

Gunung Batur dan Gunung Abang adalah opsi yang banyak disebut. Batur mewajibkan pemandu lokal terdaftar menurut Nomado Travel. Anda juga bisa memilih aktivitas non-pendakian, atau menunda trip ke setelah 5 November.

Sumber


Ditulis oleh Rif Trekker, Clayoquot Escape.